Sabtu, 02 Juni 2012

KILAS BALIK: Memori terindah 7
tahun yang lalu (25 Mei 2005 -25
Mei 2012)
Final Liga Champions 2005 -
Liverpool Comeback Atas AC Milan
Di Istanbul, 15 Menit Yang
Mengejutkan Dunia
Final Liga Champions 2004/05
antara AC Milan dan Liverpool
menyajikan mukjizat Istanbul yang
tak terlupakan sepanjang zaman.
Dinding stadion Kemal Ataturk
seperti setipis kertas. Dari kamar
ganti Liverpool, sorak sorai pemain
AC Milan di ruangan yang berbeda
begitu jelas terdengar. Semua
pemain Liverpool tertunduk lesu.
Tak ada yang berani menegakkan
kepala. Pada malam final Liga
Champions 2004/05 itu, Milan
memberikan pukulan telak kepada
Liverpool. Milan mampu unggul 3-0
saat jeda. Bek veteran Paolo
Maldini membuka keunggulan
pada menit pertama pertandingan.
Sebelum turun minum, Hernan
Crespo menambahnya dengan dua
gol. Awal yang sempurna.
Tak mau disetir kemurungan,
Rafael Benitez menghimpun nafas
dan berdiri di tengah para
pemainnya. Sang manajer sadar,
dia hanya punya waktu 15 menit
untuk mengembalikan
kepercayaan diri tim. Ketika
berjalan dari bangku cadangan
menuju ruang ganti, benak Benitez
dipusingkan mencari-cari kalimat
dalam bahasa Inggris yang tepat
untuk "menghidupkan" para
pemainnya. Kalimat yang kemudian
meluncur dari mulutnya sederhana
saja.
"Jangan tundukkan kepala kalian.
Kita Liverpool. Kalian bermain
untuk Liverpool. Jangan lupakan
itu. Kalian harus tetap menegakkan
kepala kalian untuk suporter.
Kalian harus melakukkannya untuk
mereka", serunya.
"Kalian tak pantas menyebut kalian
pemain Liverpool kalau kepala
kalian tertunduk. Kalau kita
menciptakan beberapa peluang,
kita berpeluang bangkit dalam
pertandingan ini. Percaya lah
kalian mampu melakukannya.
Berikan kesempatan buat kalian
sendiri untuk keluar sebagai
pahlawan."
Sebelum tim keluar kamar ganti,
Rafa menyusun skema formasi
baru di papan tulis. Untuk
menghambat Kaka, Rafa meminta
Dietmar Hamann bersiap tampil
menggantikan Djimi Traore.
Namun, ketika diberitahu Steve
Finnan mengalami cedera, Benitez
memanggil kembali Traore yang
sudah mencopot sepatu dan
berjalan ke kamar mandi.
Keputusan terakhir, Finnan keluar,
Hamann masuk.
Rafa sadar, tak ada lagi ruginya
mengorbankan seorang pemain
bertahan. Liverpool bermain
dengan tiga pemain belakang dan
kapten Steven Gerrard didorong
lebih ke depan. Liverpool memang
harus bangkit, sekarang atau tidak
sama sekali.
Inilah lima belas menit yang
menentukan. Lima belas menit
yang mengubah segalanya. Babak
kedua menjadi milik Liverpool.
Sembilan menit berjalan, Liverpool
menyulut sumbu ledak stadion.
Dalam rentang enam menit
berikutnya, Liverpool ganti
mengendalikan situasi. Steven
Gerrard memberikan gol
inspirasional lewat sundulan
kepala menyongsong umpan John
Arne Riise. Tak lama berselang,
tendangan keras jarak jauh
Vladimir Smicer tak dapat ditahan
Dida. Belum lagi Milan menata diri,
pada menit ke-60, Gerrard
dijatuhkan di kotak penalti oleh
Gennaro Gattuso. Penalti! Awalnya,
eksekusi Xabi Alonso sempat
ditahan Dida, tapi bola muntah
langsung disambar Alonso.
Cerita belum selesai. Kedudukan
3-3 bertahan hingga 90 menit.
Pertandingan diperpanjang hingga
30 menit, tapi tetap tak bisa
menentukan pemenang. Juara Liga
Champions musim itu pun harus
diselesaikan melalui babak adu
penalti.
Sebelum "babak perjudian" itu
dimulai, Jamie Carragher datang
menghampiri kiper Jerzy Dudek.
Carra menyarankan Dudek agar
melakukan "sesuatu" untuk
mengacaukan konsentrasi pemain
Milan. Dudek langsung teringat
rekaman video yang pernah
disaksikannya. Kaki spaghetti! Saat
adu penalti final Piala Champions
1984 melawan AS Roma,
pendahulu Dudek, Bruce
Grobbelaar, memelintir-melintir
kakinya. Entah memang
berpengaruh atau tidak,
Grobbelaar berhasil membawa
Liverpool menang dan merebut
Piala Champions.
Trik yang sama dipakai Dudek
ketika Andriy Shevchenko bertugas
sebagai eksekutor terakhir Milan.
Terbukti, trik kuno itu berhasil.
Eksekusi Sheva mengarah ke
tengah gawang dan dengan
sebelah tangan, Dudek
menahannya. Liverpool pun
merajai Eropa! Jerih payah fans
Liverpool yang terus
menggemuruhkan dukungan
untuk klub kesayangan mereka
terbayar sudah!
Mukjizat di Istanbul ini kemudian
diabadikan dalam film Fifteen
Minutes That Shook The World.
Betapa tidak, final Liga Champions
musim itu sangat dramatis dan
membuktikan segalanya mungkin
terjadi di lapangan sepakbola.
Pascafinal Istanbul, hidup tak lagi
sama. Tapi, hidup juga berjalan
terus. Satu per satu figur pemain
heroik, seperti Harry Kewell, Milan
Baros, Djibril Cisse, Luis Garcia,
Dudek, dan Smicer meninggalkan
Anfield dan melanjutkan karir di
klub baru.
Sebagian tetap tinggal, terutama
Gerrard. Sang kapten sempat
disebut-sebut akan hijrah ke
Chelsea musim panas 2005 itu.
Tapi, Istanbul mengubah
segalanya.
"Bagaimana mungkin saya pindah
setelah mengalami final seperti
ini?" ujar Gerrard.
Arak-arakan bus dengan atap
terbuka dan kerumunan satu juta
orang, 300 ribu di antaranya
memadati St George's Hall, suatu
hari di Mei 2005, pasti takkan
pernah dilupakan Liverpudlian
sepanjang masa.
#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar